Senin, 17 Agustus 2015

Lawang Sewu, Cagar Budaya Bergaya Kolonial Di Pusat Kota Semarang

Lawang Sewu, Cagar Budaya Bergaya Kolonial Di Pusat Kota Semarang Lawang Sewu di Semarang, salah satu objek wisata Semarang yang menampilkan keindahan bangunan bergaya kolonial. Sebagaimana yang umum diketahui, bangunan peninggalan kolonial selalu dapat membius banyak kalangan, terutama para pecinta sejarah dan penikmat fotografi.

Sejarah Lawang SewuLawang Sewu sendiri merupakan bangunan bersejarah yang berfungsi pada zaman perang kemerdekaan Indonesia. Awal pembangunan Lawang Sewu dimulai pada tahun 1904 dengan menggunakan rancangan B.J. Quendag dan J.F. Klinkhamer. Tiga tahun kemudian, Lawang Sewu selesai dibangun dan digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda.

Lawang Sewu
Sesudah Indonesia merdeka, bangunan ini sempat digunakan sebagai kantor PT. KAI, Kantor Badan Prasarana Kodam IV/Diponegoro, dan Kantor Wilayah Kemenhub Jawa Tengah. Penamaan Lawang Sewu sendiri dilakukan oleh masyarakat setempat karena banyaknya pintu bangunan Lawang Sewu. Dalam bahasa Jawa, “Lawang” artinya pintu dan “Sewu” artinya seribu. Jadi, Lawang Sewu diartikan sebagai Pintu Seribu. Walaupun sebenarnya jumlah pintu bangunan Lawang Sewu tidak berjumlah seribu. 

Dari sisi sejarah, Lawang Sewu menyimpan banyak nilai sejarah. Dulunya bangunan tua ini menjadi lokasi peperangan Angkatan Muda Kereta Api dan Kidobutai-Kempetai Jepang, dan menjadi saksi bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang. Karena ituah, Lawang Sewu dicantumkan dalam daftar bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Selama ini Lawang Sewu sangat sarat dengan unsur mistik. Namun setelah direvitalisasi pada tahun 2011 lalu, kini wajah Lawang Sewu terlihat lebih segar, semakin indah, dan jauh dari nuansa seram.
Bagian-Bagian Lawang SewuLawang Sewu terdiri dari gedung A, B, C, dan D, dimana setiap bangunan terdiri dari 3 lantai. Pemandu akan mengarahkan anda menuju lantai 2 dengan melewati tangga besar. Di situ, anda dapat melihat dinding kaca dengan ukiran warna-wanrni nan indah. Kaca yang masih asli dan terawat ini didatangkan langsung dari Belanda. 

Setibanya di lantai 2, pergilah ke balkon dan lihatlah lalu lintas di kawasan Tugu Muda. Penelusuran di lantai 2 akan terhenti saat anda menemukan jembatan penghubung menuju gedung belakang. Saat menelusuri lorong berikutnya, anda akan melihat selokan di bawah tepian lorong. Konon, selokan ini pernah menjadi tempat pembuangan mayat pada zaman penjajahan Jepang. Perjalanan dilanjutkan menuju lantai atas yang merupakan loteng. Menurut cerita, loteng tersebut pernah menjadi tempat penyiksaan tawanan pada zaman penjajahan Jepang.

Selanjutnya, anda boleh memasuki ruang bawah tanah, setelah sebelumnya membayar tiket masuk ruang bawah tanah. Dulu ruang bawah tanah ini pernah dijadikan sebagai penjara dan saluran pembuangan air. Memasuki ruang bawah tanah, anda akan menemukan tulisan berisi larangan melakukan aktivitas berbau mistis.

Namun untuk menelusuri ruang bawah tanah ini tidaklah mudah. Anda harus menerobos genangan air yang tinggi. Sepuasnya menjelajahi ruang bawah tanah, masukilah gedung lain yang berukuran lebih kecil. Itulah gedung Museum Kereta Api. Di sana, anda dapat mengetahui sejarah bangunan Lawang Sewu, menyaksikan foto dokumentasi perkeretapian di Semarang pada zaman penjajahan Belanda, potret blue print Lawang Sewu, hingga material pembangunan Lawang Sewu.

Secara umum, suasana Lawang Sewu memang terbilang seram dengan ukuran ruangan yang kecil, pencahayaan yang redup, dan udaranya yang lembab cenderung pengap. Hal-hal itulah yang sering menimbulkan cerita mistis di kalangan pengunjung. Meskipun begitu, pengunjung tetap terpesona dengan keindahan arsitektur Lawang Sewu yang begitu artistic.

Saat tengah menjelajahi Lawang Sewu, jangan lupa arahkan kamera anda pada spot-spot Lawang Sewu yang menarik. Di depan Gedung A, terdapat sebuah lokomotif yang bersebelahan dengan sebuah monumen. Keduanya menjadi spot favorit untuk berfoto.
Akses dan Tiket Masuk Lawang Sewu terletak di pusat kota Semarang, sehingga akses untuk mencapainya terbilang sangat mudah. Arahkan kendaraan pribadi anda menuju Simpang Lima atau jika menggunakan angkutan umum, ambil rute Tugu Muda. Lawang Sewu dibuka setiap hari, mulai pukul 06.00 hingga pukul 18.00. Untuk masuk ke dalam Lawang Sewu, anda harus membayar tiket masuk Rp 10.000, sementara untuk masuk ke ruang bawah tanah dikenakan tiket masuk Rp 30.000.

Lawang Sewu, Cagar Budaya Bergaya Kolonial Di Pusat Kota Semarang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Julli Dellia

0 komentar:

Tentang GudangAlamat.Com

Selamat datang di gudangalamat.com situs penyedia pencarian alamat dan objek wisata di Indonesia dan dunia. Untuk mencari data alamat perusahaan maupun alamat lain yang ingin Anda cari, gunakanlah kolom pencarian alamat pada kotak telusur dibagian atas sebelah kanan dengan cara memasukkan kata kunci yang ingin Anda cari.

Gudangalamat.com menyediakan direktori alamat perusahaan/kantor, database email dan nomor telpon penting di Indonesia, cari alamat perusahaan, cari nomer telepon, cari peta alamat dan lain sebagainya yang terangkum dalam database direktori alamat yang ada di gudangalamat.com