Kamis, 20 Agustus 2015

Sawahlunto di Sumatera Barat, Kota Tambang Bernuansa Kolonial

Sawahlunto di Sumatera Barat, Kota Tambang Bernuansa Kolonial.Sumatera Barat tidak hanya soal Padang dan Bukittinggi. Masih ada Sawahlunto yang popularitasnya sedang menanjak. Berjarak 2 jam perjalanan dari timur laut Kota Padang, Sawahlunto dulu adalah kota pertambangan batu bara.


Namun saat industri pertambangan telah habis, Sawahlunto nyaris menjadi kota mati karena sebagian penduduknya pindah ke kota lain untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.Tapi itu semua tidak berlangsung lama.

Kini pemerintah kota Sawahlunto telah menyulap areal bekas pertambangan menjadi objek wisata, seperti bekas kereta pengangkut batu bara dan lubang tambang. Tidak hanya itu, sebagian besar bangunan di Sawahlunto masih mempertahankan arsitektur kolonial, termasuk rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay untuk turis. 

Lubang Tambang Mbah Soero
Lubang Tambang Mbah Soero
Ke Sawahlunto belum lengkap jika belum mengunjungi Lubang Tambang Mbah Soero yaitu bekas tambang yang dibuka pertama kali pada tahun 1898. Nama Mbah Soero sendiri diambil dari nama seorang penambang yang paling disegani di antara penambang lainnya karena keuletan dan kerja kerasnya.

Dulunya, selain digunakan sebagai tempat penambangan batu bara, lubang sepanjang puluhan kilometer ini juga dipenuhi oleh banyak tahanan politik dari Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi yang dijadikan pekerja paksa. Mereka semua diperkerjakan dengan tidak manusiawi, dimana kaki dan leher mereka diikat dengan rantai. Pada tahun 1932, lubang ini sempat ditutup. Namun 75 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2007, Lubang Tambang Mbah Soero kembali dibuka untuk menjadi tempat wisata. 

Museum Goedang Ransum
Museum Goedang Ransum
Tidak jauh dari Lubang Tambang Mbah Soero, ada Museum Goedang Ransum yang dulunya digunakan sebagai dapur umum besar. Pemerintah kolonial Belanda membangun dapur umum besar untuk memasok makanan pekerja tambang, tahanan, dan pasien rumah sakit. Di dalam Museum Goedang Ransum, Anda dapat melihat banyak panci besar, kompor batu bara, periuk, kuali, dan aneka peralatan dapur berukuran besar.

Selain itu, ada juga bangunan lainnya seperti gudang persediaan padi dan bahan mentah, pabrik es batangan, menara cerobong asap, rumah jagal hewan, penggilingan padi, kantor koperasi, dan rumah karyawan. Tidak hanya itu, Anda juga dapat mempelajari sejarah dapur umum dan bangunan-bangunan penunjangnya, serta menyaksikan video dokumentasi tambang batubara di Sawahlunto.

Museum Kereta Api
Museum Kereta Api
Berjarak 500 meter dari Museum Goedang Ransum, Anda akan menemukan Museum Kereta Api. Dulu pengangkutan hasil bumi dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Padang dilakukan dengan menggunakan lokomotif uap. Namun saat ini stasiun ini tidak lagi menjadi pemberhentian kereta api, melainkan telah diubah fungsinya menjadi museum.

Di dalam museum ini, Anda dapat mempelajari sejarah perkeretaapian di Sawahlunto dan melihat replika lokomotif, jam kuno, bahkan ketel-ketel uap. Tidak hanya itu, Anda juga dapat melihat lokomotif uap Mak Itam yang ternama seantero negeri, yang sudah tidak berderita lagi namun tetap mendapatkan perawatan.

Selain ketiga tempat di atas, nuansa kolonial juga dapat dilihat pada bangunan Kantor Bukit Asam, Hotel Ombilin, dan Gedung Pusat Kebudayaan. Kantor perusahaan Bukit Asam ini dibangun di jantung kota Sawahlunto. Kemudian, Hotel Ombilin merupakan hotel tertua di Sawahlunto. Dulu, Hotel Ombilin dijadikan penginapan untuk para ahli tambang dari Belanda. Dan terakhir, Gedung Pusat Kebudayaan atau Gluck Auf yang berada tepat di depan Hotel Ombilin. Dulu, gedung ini disebut Rumah Bola karena dijadikan tempat bermain billiard dan bowling oleh para pejabat Belanda.

Penginapan
Penginapan
Untuk masalah penginapan, Sawahlunto memiliki tiga hotel dan empat penginapan. Selebihnya, ada banyak rumah warga yang dijadikan homestay, seperti Cendana Homestay dan Oma Homestay. Sebagian besar wisatawan memang lebih memilih homestay agar bisa lebih mengenal kebudayaan lokal. 

Kuliner
Dendeng Batokok
Sawahlunto memiliki kuliner khas Dendeng Batokok, yaitu makanan yang terbuat dari daging sapi atau daging kerbau. Selain itu, masih ada Kerupuk Kubang, Kerupuk Tempe, dan Sop & Soto khas Sawahlunto yang tidak boleh dilewatkan.

Akses

Sawahlunto berjarak 90 kilometer dari Kota Padang. Untuk mencapainya, Anda bisa menaiki bus ataupun kendaraan pribadi dengan waktu tempuh 2,5 jam perjalanan. Bisa juga dengan menggunakan kereta api dengan rute Padang-Padang Panjang-Sawahlunto.

Sawahlunto di Sumatera Barat, Kota Tambang Bernuansa Kolonial Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Julli Dellia

0 komentar:

Tentang GudangAlamat.Com

Selamat datang di gudangalamat.com situs penyedia pencarian alamat dan objek wisata di Indonesia dan dunia. Untuk mencari data alamat perusahaan maupun alamat lain yang ingin Anda cari, gunakanlah kolom pencarian alamat pada kotak telusur dibagian atas sebelah kanan dengan cara memasukkan kata kunci yang ingin Anda cari.

Gudangalamat.com menyediakan direktori alamat perusahaan/kantor, database email dan nomor telpon penting di Indonesia, cari alamat perusahaan, cari nomer telepon, cari peta alamat dan lain sebagainya yang terangkum dalam database direktori alamat yang ada di gudangalamat.com